Kamis, 18 Februari 2016

INDAH PADA WAKTUNYA

              Sejenak kutertegun memandang lingkaran berwarna emas di jari manisku, dan aku kembali melihat beliau yang di depan sana, masih renyah menjelaskan lengkap dengan kitab Ibnu Aqil di hadapannya. Ah, mengapa hidup mulai terasa sulit untuk kujalani? Sebuah fakta yang tak mungkin lagi kupungkiri hadirnya. Aku, seorang perempuan berdarah priyayi, merasa terbelenggu dalam kehidupanku yang selalu serba dibatasi.
            Pagi ini, sorogan kitab Ibnu Aqil dari Ustadz Fahmi. Seorang ustadz yang sangat cerdas dalam pengetahuan agama juga pengetahuan umumnya. Beliau adalah sosok idaman setiap perempuan untuk menjadi imam dalam kehidupannya, terlebih beliau adalah ustadz muda yang sangat dibanggakan oleh Kiai Muhyiddin, kiai besar di wilayah Jawa Timur. Tak heran setiap perempuan berharap untuk menjadi pendamping hidupnya, termasuk aku.
            “Kalamun Qodimun la yamallu sama’uhu.....”, suara koor teman-teman mengajiku mulai terdengar, ah..aku tersentak dari lamunanku, ternyata pengajian pagi ini sudah berakhir. Tanpa terasa lamunanku juga buyar. Kitarik nafas dalam-dalam, yah...dan aku harus cepat bangun dari majlis ini, sebelum semua teman-temanku beranjak pergi.
“Neng Haura, mari saya antarkan ke dalem...”, terdengar suara dibalik punggungku, “ah, iya nisa, ayo...!! di dalem nggak ada orang, baba mios. ” jawabku sambil menarik pergelangan tangan kanannya. Beberapa mata melirik ke arah kami. Tanpa kusangka, sepasang mata terpergok dengan mataku. Allah..sepasang mata itu, milik seseorang yang kulamunkan tadi. Cepat-cepat kupergi menarik tangan Nisa semakin keras.
###
            Salahkah aku sebagai perempuan yang mempunyai rasa cinta? Bukankah cinta itu keagungan tuhan, bukankah cinta itu fitrah? Aku tak ingin memungkiri kalau aku sudah terikat pada orang lain, orang pilihan baba. Seseorang yang sampai saat ini aku tak tahu siapa dan dimana dia. Kuteringat suatu hari, Baba memanggilku ke ruang keluarga. Pada saat itu, aku masih di bangku kelas 3 aliyah.
“ Ra..kemari nak! Baba ingin berbicara sesuatu padamu.” Dawuh baba pada saat itu. Aku duduk disebelah beliau, baba tersenyum. “Ada apa Baba? Sepertinya ada hal penting.”, ujarku. Kemudian Baba mengambil tanganku dan memberikan sebuah cincin yang indah, tidak begitu mewah, sembari berdawuh, “Nak, baba ingin kamu menjaga dirimu dengan lebih baik lagi. Baba telah menjodohkanmu dengan putra teman baba. Orangnya tak usah kamu tanyakan lagi pasti sesuai dengan kriteria anak muda sekarang, juga sesuai dengan kriteria penerus pondokan ini. Baba ingin kamu menerima semua ini dengan ikhlas, dan mulai saat ini, bersiap menjadi calon istri yang baik.” seakan guntur menggelegar di terik siang pada saat itu, aku merasakan sakit yang sangat dalam. Ah, baba...andaikan saja beliau tahu, anak semata wayangnya ini sudah terpikat dengan orang lain. Ustadz yang setiap pagi mengajarkan ilmu alat, ustadz kepercayaan Baba, Ustadz Fahmi. Setelah berdawuh begitu baba beranjak untuk pergi menghadiri suatu acara, tersisalah aku di ruang tamu yang luas dan sepi.  
            Di saat seperti ini, tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain terisak sendiri. Mau menolak kehendak baba, suatu hal yang muhal bagiku. Karena hanyalah beliau orang tuaku satu-satunya, setelah Umma pergi keharibaanNya usai melahirkanku kedunia. Baiklah, meskipun hatiku sakit, biarlah ini berjalan sesuai dengan kehendakNya, mungkin inilah yang terbaik untuk kehidupanku kelak. Aku hanya berusaha untuk meyakini hal itu. Dan lagi, aku tak ingin menambah beban Baba dengan hal ini, Baba sudah mempunyai lebih dari banyak hal penting untuk difikirkan.
            Semenjak saat itu, tak pernah lagi aku bertanya perihal “tunanganku” yang nun jauh disana. Yang kulakukan hanyalah menuruti pesan baba, dan berusaha membunuh rasa cintaku yang tulus pada ustadz Fahmi, meskipun sampai saat ini tetap saja tidak pernah berhasil.
###
Maret 2013...
            Hari-hari terasa sangat indah bagiku, setelah semuanya berlalu, Aku bahagia. Aku menikah dengan orang yang kucintai tanpa melanggar keinginan baba. Ternyata memang benar, Baba memilihkan seseorang yang sesuai dengan kriteriaku dan kriteria Baba sebagai penerus menjalankan amanah.
            Saat ini, sedang kubaca Ukiran namaku dan Suamiku di sebuah undangan yang kupajang di lemari kaca. Tertulis disana,

Menikah :
Haura Faradisya binti H. Muhyiddin
dengan
Ahmad Dzaky Fahmi bin H. Miftahul Huda.

Alhamdulillah...tak pernah kuberhenti bertahmid. Segala puji memang hanya bagiNya, yang membuat cerita hidup seindah ini.
            Ternyata baba memang mengetahui keinginan di lubuk hatiku, hanya saja beliau tidak ingin terjadi fitnah jika seandainya banyak orang yang mengetahui bahwa tunangan neng Haura adalah ustadz Fahmi yang mengajarnya setiap pagi. Juga baba ingin aku dan mas Fahmi, begitu aku memanggilnya saat ini, sama-sama menjaga, agar segalanya sesuai dengan yang diharapkan dan indah pada saatnya.
            Mas Fahmi, ternyata sudah mengetahui pertunangan kami dari awal. Pantas saja ia tak pernah terlihat terbebani. Karena ia mengetahui siapa perempuan yang menjadi tunangannya, terlebih ia juga mengakui kalau memang menaruh hati pada putri kiainya.  Ah...semua memang akan indah pada waktunya. Dan perlu digaris bawahi, setiap orang tua pasti menginginkan segala hal yang terbaik bagi anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar