Sejenak
kutertegun memandang lingkaran berwarna emas di jari manisku, dan aku kembali
melihat beliau yang di depan sana, masih renyah menjelaskan lengkap dengan
kitab Ibnu Aqil di hadapannya. Ah, mengapa hidup mulai terasa sulit untuk
kujalani? Sebuah fakta yang tak mungkin lagi kupungkiri hadirnya. Aku, seorang
perempuan berdarah priyayi, merasa terbelenggu dalam kehidupanku yang selalu
serba dibatasi.
Pagi ini, sorogan kitab Ibnu Aqil
dari Ustadz Fahmi. Seorang ustadz yang sangat cerdas dalam pengetahuan agama
juga pengetahuan umumnya. Beliau adalah sosok idaman setiap perempuan untuk
menjadi imam dalam kehidupannya, terlebih beliau adalah ustadz muda yang sangat
dibanggakan oleh Kiai Muhyiddin, kiai besar di wilayah Jawa Timur. Tak heran
setiap perempuan berharap untuk menjadi pendamping hidupnya, termasuk aku.
“Kalamun
Qodimun la yamallu sama’uhu.....”, suara koor teman-teman mengajiku mulai
terdengar, ah..aku tersentak dari lamunanku, ternyata pengajian pagi ini sudah
berakhir. Tanpa terasa lamunanku juga buyar. Kitarik nafas dalam-dalam,
yah...dan aku harus cepat bangun dari majlis ini, sebelum semua teman-temanku
beranjak pergi.
“Neng
Haura, mari saya antarkan ke dalem...”,
terdengar suara dibalik punggungku, “ah, iya nisa, ayo...!! di dalem nggak ada
orang, baba mios. ” jawabku sambil
menarik pergelangan tangan kanannya. Beberapa mata melirik ke arah kami. Tanpa
kusangka, sepasang mata terpergok dengan mataku. Allah..sepasang mata itu,
milik seseorang yang kulamunkan tadi. Cepat-cepat kupergi menarik tangan Nisa semakin
keras.
###
Salahkah aku sebagai perempuan yang
mempunyai rasa cinta? Bukankah cinta itu keagungan tuhan, bukankah cinta itu
fitrah? Aku tak ingin memungkiri kalau aku sudah terikat pada orang lain, orang
pilihan baba. Seseorang yang sampai saat ini aku tak tahu siapa dan dimana dia.
Kuteringat suatu hari, Baba memanggilku ke ruang keluarga. Pada saat itu, aku
masih di bangku kelas 3 aliyah.
“
Ra..kemari nak! Baba ingin berbicara sesuatu padamu.” Dawuh baba pada saat itu.
Aku duduk disebelah beliau, baba tersenyum. “Ada apa Baba? Sepertinya ada hal
penting.”, ujarku. Kemudian Baba mengambil tanganku dan memberikan sebuah
cincin yang indah, tidak begitu mewah, sembari berdawuh, “Nak, baba ingin kamu
menjaga dirimu dengan lebih baik lagi. Baba telah menjodohkanmu dengan putra
teman baba. Orangnya tak usah kamu tanyakan lagi pasti sesuai dengan kriteria
anak muda sekarang, juga sesuai dengan kriteria penerus pondokan ini. Baba
ingin kamu menerima semua ini dengan ikhlas, dan mulai saat ini, bersiap
menjadi calon istri yang baik.” seakan guntur menggelegar di terik siang pada
saat itu, aku merasakan sakit yang sangat dalam. Ah, baba...andaikan saja
beliau tahu, anak semata wayangnya ini sudah terpikat dengan orang lain. Ustadz
yang setiap pagi mengajarkan ilmu alat, ustadz kepercayaan Baba, Ustadz Fahmi.
Setelah berdawuh begitu baba beranjak untuk pergi menghadiri suatu acara,
tersisalah aku di ruang tamu yang luas dan sepi.
Di saat seperti ini, tak ada lagi
yang bisa aku lakukan selain terisak sendiri. Mau menolak kehendak baba, suatu
hal yang muhal bagiku. Karena hanyalah beliau orang tuaku satu-satunya, setelah
Umma pergi keharibaanNya usai melahirkanku kedunia. Baiklah, meskipun hatiku
sakit, biarlah ini berjalan sesuai dengan kehendakNya, mungkin inilah yang
terbaik untuk kehidupanku kelak. Aku hanya berusaha untuk meyakini hal itu. Dan
lagi, aku tak ingin menambah beban Baba dengan hal ini, Baba sudah mempunyai
lebih dari banyak hal penting untuk difikirkan.
Semenjak saat itu, tak pernah lagi
aku bertanya perihal “tunanganku” yang nun jauh disana. Yang kulakukan hanyalah
menuruti pesan baba, dan berusaha membunuh rasa cintaku yang tulus pada ustadz
Fahmi, meskipun sampai saat ini tetap saja tidak pernah berhasil.
###
Maret 2013...
Hari-hari
terasa sangat indah bagiku, setelah semuanya berlalu, Aku bahagia. Aku menikah
dengan orang yang kucintai tanpa melanggar keinginan baba. Ternyata memang
benar, Baba memilihkan seseorang yang sesuai dengan kriteriaku dan kriteria
Baba sebagai penerus menjalankan amanah.
Saat ini, sedang kubaca Ukiran
namaku dan Suamiku di sebuah undangan yang kupajang di lemari kaca. Tertulis
disana,
Menikah :
Haura Faradisya binti H. Muhyiddin
dengan
Ahmad Dzaky Fahmi bin H. Miftahul Huda.
Alhamdulillah...tak pernah kuberhenti bertahmid. Segala puji memang hanya bagiNya, yang membuat cerita hidup seindah ini.
Ternyata baba memang mengetahui
keinginan di lubuk hatiku, hanya saja beliau tidak ingin terjadi fitnah jika
seandainya banyak orang yang mengetahui bahwa tunangan neng Haura adalah ustadz
Fahmi yang mengajarnya setiap pagi. Juga baba ingin aku dan mas Fahmi, begitu
aku memanggilnya saat ini, sama-sama menjaga, agar segalanya sesuai dengan yang
diharapkan dan indah pada saatnya.
Mas
Fahmi, ternyata sudah mengetahui pertunangan kami dari awal. Pantas saja ia tak
pernah terlihat terbebani. Karena ia mengetahui siapa perempuan yang menjadi
tunangannya, terlebih ia juga mengakui kalau memang menaruh hati pada putri
kiainya. Ah...semua memang akan indah
pada waktunya. Dan perlu digaris bawahi, setiap orang tua pasti menginginkan
segala hal yang terbaik bagi anaknya.
